Sabtu, 26 Mei 2012

MAKALAH DAFTAR PUSTAKA


2 Daftar Pustaka
a. Pengertian
5
 
Daftar pustaka adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel dan bahan-bahan penerbitan lainnya. yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan atau sehagian dan karangan yang tengah digarap (Gorys, 1997). Daftar pustaka berada pada bagian akhir sebuah buku dan  memuat semua sumber informasi yang digunakan.
Bagi orang awam daftar pustaka mungkin tidak penting artinya, tetapi bagi seorang sarjana, seorang calon sarjana atau scorang cendekiawan daftar kepustakaan itu merupakan suatu hat yang sangat penting. Dapat saya tarik kesimpulan bahwa daftar pustaka adalah suatu daftar  referensi yang digunakan oleh para penulis dalam karya ilmiah atau tulisannya.
b. Fungsi Daftar Pustaka
1)      Untuk memberikan informasi bahwa pernyataan dalam karangan itu bukan hasil pemikiran penulis sendiri, tapi hasil pemikiran orang lain.
2)      Untuk memberikan informasi selengkapnya tentang sumber kutipan sehingga dapat ditelusuri bila perlu
3)      Membaca sendiri referensi yang menjadi sumber kutipan.
4)      Memberikan deskripsi yang penting tentang buku, majalah, harian itu secara keseluruhan.
c. Penyusunan Daftar Pustaka
Jika sumber pustaka itu buku, susunan penulisnyan adalah nama pengarang, tahun terbit, judul buku, tempat terbit (kota), dan nama penerbit.
1.   Nama pengarang
a)   Penulisan nama pengarang dilakukan  dengan mencantumkan nama akhirnya terlebih dahulu, kemudian disusul oleh nama pertama yang dipisahkan dengan tanda koma.
Contoh: Keraf, Gorys
b)   Jika pengarang itu dua orang, kedua nama pengarang itu dicantumkan dengan membalikkan nama pengarang pertama.
Contoh: Jika pengarang itu Asep ruhimat dan andrie Ristiaman,
penulisannya sebagai berikut: Ruhimat, asep dan andrie Ristiaman.
c)   Jika pengarangnya lebih dari dua orang, nama pengarang yang dituliskan adalah nama pengarang pertama disertai singkatan dkk (dan kawan-kawan).
Contoh: Trimansyah,Bambang dkk
d)  Jika buku itu disusun oleh seorang editor, dibelakang nama pengarang dituliskan kata editor
Contoh Rahayu,Sri (Editor)
e)   Gelar kesarjanaan tidak dituliskan dalam daftar pustaka.Akan tetapi, gelar keturunan dapat dipakai.
Contoh: Jika nama pengarang  Dra. Netty Rachmat, penulisannya sebagai berikut: Rachmat, Netty.
f)    Apabila nama pengarang menggunakan singkatan pada namanya setelah nama depan, penulisannya tidak perlu dibalikkan.
Contoh: Indira D.tetap ditulis seperti aslinya.
Indira D.Permana ditulis Permana,Indira D.
2.   Tahun Terbit
a)   Tahun terbit ditulis sesudah nama pengarang, dipisahkan oleh titik dan diakhiri dengan titik pula.
Contoh: Keraf, Gorys, 1989
b)   Jika beberapa buku ditulis oleh seorang pengarang, urutan penyusunannya berdasarkan tahun terbit yang terdahulu.
Contoh: Marlina, Rina. 1991
Marlina, Rina. 1993
c)   Jika beberapa buku acuan ditulis seseorang, sedangkan tahunnya sama, dibelakang tahun itu harus dibubuhkan huruf a dan b sebagai pembeda.Urutannya diutamakan pada huruf pertama judul buku.
Contoh: Simatupang, Nugraha .I990a.
Simatupang, Nugraha .I990b.
d)  Jika buku itu tidak bertahun, dibelakang nama pengarang dicantumkan frase tanpa tahun.
Contoh: Setiaji, lili.Tanpa tahun.
3.   Judul buku
a)   Judul buku dituliskan setelah tahun terbit dan dicetak miring atau digaris bawahi, tidak diberi tanda petik.
Contoh: Mulyana, Rangga dkk.1996.Mari bermain musik.
b)   Jika judul itu adalah buku yang belum dipublikasikan seperti skripsi,tesis, disertasi,judul itu tidak dicetakk miring atau digaris bawahi,tetapi diberi tanda petik
Contoh: Ruhimat, Asep. 1991.”Menyisiati Usaha Penerbitan Buku”.

4.   Tempat Terbit
a)   Tempat terbit ( kota) diletakkan sesudah judul dan diakhiri dengan titik dua.
Contoh: Jassin, H.B.1998. Angkatan 66 puisi dan prosa: Jakarta
b)   Kalau tempat terbit itu bukan nama kota, tetapi nama kecamatan, yang dituliskan ialah nama kabupatennya.
Contoh: Purbowinanto, Yudi. 1996. Teknik penyajian Buku Pelajaran.Bandung:
5.   Nama Penerbit
a)   Nama penerbit dicantumkan sesudah nama tempat terbit.
Contoh: Sirait, Budiman.1996.Kiat Menjual Mobil ,Padang: Intimedia Persada.
b)   Jika lembaga yang menerbitkan buku itu langsung dijadikan pengganti nama pengarang (Karena nama pengarang tidak ada), nama penerbit itu tidak perlu disebutkan lagi sesudah tempat terbit.
Contoh: Lembaga Bina Persada.1996. Ensiklopedi Penerbitan Indonesia. Bandung

2.3   Catatan Kaki
a.    Pengertian
Catatan kaki, atau dikenal dengan istilah footnote adalah keterangan tambahan yang terletak di bagian bawah halaman dan dipisahkan dari teks karya ilmiah oleh sebuah garis sepanjang dua puluh ketukan (dua puluh karakter) (Sadikin, 1999).
Catatan kaki merupakan catatan di kaki halaman yang dipergunakan untuk memberikan penjelasan tambahan. Jika di dalam catatan kaki ada referensi, referensinya dibuat dalam bentuk running notes. Besar font catakan kaki adalah lebih kecil dari teks utama, yakni biasanya dengan besar font 10 dengan asumsi ukuran teks utama 12.
b.   Kegunaan Catatan Kaki (footnote)
1.   Menjelaskan referensi yang dipergunakan bagi pernyataan dalam teks (catatan kaki sumber atau reference footnote).
2.   Menjelaskan komentar penulis terhadap pernyataan dalam teks yang dipandang penting, tetapi tak dapat dinyatakan bersama teks karena dapat mengganggu alur tulisan.
3.   Menunjukkan sumber lain yang membicarakan hal yang sama (catatan kaki isi atau content footnote). Jenis catatan kaki ini biasanya menggunakan katakata: Lihat …, Bandingkan …, dan Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam …, dan sebagainya. Dianjurkan penggunaannya tidak berlebihan agar tidak menimbulkan kesan pamer. Penggunaan ungkapan tersebut perlu secara konsisten dan benar.  Catatan kaki sebaiknya tidak melebihi sepertiga halaman. Sekiranya halaman tidak memungkinkan, sebagian dari catatan kaki dapat diletakkan di halaman berikutnya.

c.    Teknik Penulisan Catatan Kaki
1.   Untuk Buku.
Unsur yang diperlukan dicantumkan adalah:
a)      Nama Pengarang,
b)      Judul Buku yang ditulis dengan huruf italic,
c)      Jilid,
d)     Cetakan,
e)      Tempat Penerbit,
f)       Nama Penerbit,
g)      Tahun diterbitkan, dan
h)      Halaman (disingkat h. saja, baik untuk satu halaman maupun beberapa halaman) dari mana referensi itu berasal.
Note: Data penerbitan, mulai dari cetakan, tempat penerbit, nama penerbit, dan tahun diterbitkan, diletakkan di dalam kurung.
 Contohnya:
1Muhammad Ibn ‘Abdillah alZarkasyiy, alBurhân fî ‘Ulum alQur’an, JuzIV (Cet. I; Cairo: Dar Ihya’ alKutub alArabiyah, 1958 M/1377 H), h. 3435.
2.   Untuk Artikel Dalam Surat Kabar Dan Majalah
Unsur yang perlu dicantumkan adalah:
a)      Nama Pengarang/Penulis Artikel (kalau ada),
b)      Judul Artikel (di antara tanda kutip),
c)      Nama Surat Kabar (huruf italic),
d)     Nomor Edisi, Tanggal, dan Halaman.
Note: Jika yang dikutip bukan artikel tetapi berita atau tajuk atau lainnya, maka yang dicantumkan adalah judul tajuk atau beritanya (di antara tanda kutip), diikuti dengan penjelasan apakah itu tajuk atau berita yang dituliskan di antara kurung siku [ ], diikuti nama surat kabar (huruf italic), nomor terbitan, tanggal, dan halaman.
Contohnya:
2Sayidiman Suryohadiprojo, “Tantangan Mengatasi Berbagai Kesenjangan”,
Republika, No. 342/II, 21 Desember 1994, h. 6.
3”PWI Berlakukan Aturan Baru” [Berita], Republika, No. 346/II, 28 Desember
1994, h. 16.
4Bachrawi Sanusi, “Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi,” Panji Masyarakat,
No. 808, 110 Nopember 1994, h. 30.
3.   Untuk Buku Yang Memuat ArtikelAtikel Dari Berbagai Pengarang
Bila mengutip buku yang seperti ini, maka perlu diperhatikan artikelyang dikutip, dan siapa pengarangnya. Unsur yang perlu disebutkan adalah:
a)      Nama Penulis Artikel,
b)      Judul Artikelnya di antara tanda kutip,
c)      Nama Editor Buku (kalau ada) atau Nama Pengarang Artikel Pertama, diikuti istilah et al. atau dkk. (karena tentu banyak orang yang menyumbangkan artikel) Data Penerbitan, dan Halaman.
Contohnya:
5M. Dawam Rahadjo, “Pendekatan Ilmiah terhadap Fenomena Keagamaan,”
dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (eds.), Metodologi Penelitian Agama
(Cet. II; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h. 24.
6Sahiron Syamsuddin, “Hamka’s Political Thougt as Expressed in His Tafsir Al
Azhar,” dalam Sry Mulyati dkk., Islam & Development: A Politico Religious
Response (Montreal, Canada: Permika, 1997), h. 244.
4.   Untuk Artikel Atau Entri Dan Ensiklopedia
Unsur yang perlu dicantumkan adalah:
a)      Nama Penulis Entri (jika ada),
b)      Judul Entri di antara dua tanda kutip,
c)      Nama Editor Ensiklopedia (kalau ada),
d)     Nama Ensiklopedia (huruf italic),
e)      Jilid,
f)       Data Penerbitan, dan
g)      halaman.
Contohnya:
[1]Beatrice Edgel, “Conception”, dalam James Hastings (ed.), Encyclopedia of
Religion and Ethics, jilid 3 (New York: Charles Schribner’s Son, 1979), h. 769.
5.   Kutipan Dari UndangUndang Dan Penerbitan Resmi Pemerintah
Unsur yang perlu dicantumkan adalah:
a)      Nama Instansi yang berwenang,
b)      Judul Naskah (huruf italic).
Note: Jika data dikutip dari sumber sekunder, maka unsur sumber tersebut dicantumkan dengan menambahkan unsurunsur nama buku (huruf italic), dan data penerbitan. Jika sumber sekunder tersebut mempunyai penyusun, maka nama penyusun ditempatkan sebelum nama buku dan nama penerbit dimasukkan sebagai data penerbit.
Contoh:
[2]Republik Indonesia, Undangundang Dasar 1945, Bab I, pasal 1.
[3]Republik Indonesia, “UndangUndang RI Nomor 2 Tahun 1985 Tentang
Perubahan atas UndangUndang No. 15 Tahun 1969,” dalam UndangUndang
Keormasan (Parpol & Golkar) 1985 (Jakarta: Dharma Bhakti, t.th.), h. 4.
[4]Republik Indonesia, “UndangUndang RI Nomor 5 Tahun 1986 tentPeradilan Tata Usaha Negara,” dalam S.F.. Marbun, Peradilan Tata Usaha Negara
(Yogyakarta: Liberty, 1988), h. 198


b)   Istilah op. cit. (singkatan dari opera citato, dan singkatan harus diberi spasi diantaranya, op. cit., bukan op.cit.) menunjuk kepada sumber yang sama telah disebut terdahulu tetapi diantarai oleh sumber lain yang tidak sama halamannya. Istilah ini (op. cit.) digunakan sesudah menyebutkan nama pengarang. Jika halaman yang dikutip sama, maka digunakan istilah loc. cit. (singkatan dari loco citato).
1Sarwiji Suwandi, “Peran Guru dalam Meningkatkan Kemahiran Berbahasa Indonesia Siswa Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi”, Kongres Bahasa Indonesia VIII, (Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 2003), 1-15.
2Suwandi, Loc.Cit




 
Contohnya:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar